Pakdenoran dengan Azidin di hadapan replika takhta Kesultanan Kutai Balai penghapan kesultanan Kutai replika tahkta kesultanan Kutai Replika kesiltanan Kutai Ruang peraduanan kesultanan Kutai
Perkampungan di tepi sunagi di Samarinda
Penenun kain samarinda
Satu lorong di perkampungan penenun kain Penenun kain samarinda Salah satu papan tanda di kota Samarinda
Saya pernah melancung ke Samarinda beberapa tahun dahulu tanpa mengetahui ada kaitan dengan Daeng Selili. Beberapa tahun lalu saya baru tahu saya ada kaitan dengan Daeng Selili bahawa saya keturunan ke 10 dengan isterinya dari Perak Raja Tengah. Di Perak Daeng Selili dikenali berbagai gelaran salah satu yang termashor Maharajalela Pancung tak bertanya, Daeng Celah, Haji Besar dan Mufti Perak Pertama.
Di sini yang lampirkan gambar-gambar semasa melancung ke Samarinda.
Isteri Busu Manjang Ketiga Ngah Sadiah dikuniakan dua orang anak sahaja iati Alang Ahmad dan Chu Aisah. Alang Ahmah berkeluarga dengan Alang Yah digelarkan dengan Ngah Pungut dikurniakan enam orang anak iaitu Abu Kasim, Engguk, Hapipah,Teh 'Aishah, Baghiyah dan Mahiah.
Keluarga Baghiyah binti Alang Ahmad
Baghiyah betermu jodoh dengan Abul Karim yang bersaudara dengan Mat Daud suami Teh 'Aisah. Pasangan Baghiyah dengan Abdul Karim di kuniakan enam orang anak iaitu Abdul Karim, Kamaruzzaman, Ikram, Harun, Mohamad Hasbi dan Robaaishah.
Abdul Rahman dengan Saerah di kurniakan enam orang anak, mereka tinggal di Sayung Lemabah, anak sulungnya Norizan pesara guru bersuamikan Bashah orang Johor, meraka tinggal di Kampung Laksan, Jalan Datuk Sagor belakang Sekolah Menengah China Chong Wah. Kedua Ideris beristerika dengan Latifah orang Sayung tinggal di Sayung Lembah, Ketiga Mohamad fauzi keempat Murad, kelima Maizun dan yang bongsu Duan.
Kamaruzzaman lebih dikenali dengan nama keluarga Pak Ngah Zam beristeri dengan sepupunnya Saerah anak kepada Mahiah. Mereka dikuniakan sembilan orang anak iaitu Yahya pesara tentera berpangkat Major beriterikan Hamsiah pesara kerani di pejabat keraan Kuala Kangsar. Mejer Yahya seorang aktivitis masyarakat tinggal di Simpang Tiga Talang, Kuala Kangsar dikuniakan enam orang anak iaitu Syazaima, Syazaili, Syazaifa, Syazaina, Syazaifi dan Syazaira iaitu empat perempuan dan dua lelaki iaitu Syazaili dan Syazaifi. Anak-anak lain Pak Ngah Zam ialah Hanif, Rosley, Rosila Hanim, Rosmawan, Ahmad Zaini merupakan seorang wartawan Berita Harian dan berjawatan ketua pengarang Bahasa Melayu Berita Harian, yang lain ialah Kamal Arifin, Mohamad Shukri seorang guru di daerah Kuala Kangsar dan yang bongu Ahmad Sharibi.
Ikram beristerikan Noo tinggal di Sayung Lembah berdekatan dengan rumah Pakngah Zam dan Abdullah Sani. Psangan ini dikurniakan lima orang anak iaitu Abu Bakar Sharudin, Mili Iksan, Ismail, Zainal dan Fatimah
Harun beristerikan Kak Ani tinggal di Gombak Kuala Lumpur dikuniakan empat orang anak iaitu Zulkarnain, Hasami, Nor Asma dan Azizah. Harun lebih dikenali oleh keluarga sebagai Tak Harun merupakan seorang pesara pegawai kanan keranan pernah menjadi pembantu khas Tun Musa Hita semasa Tun menjadi menteri pelajaran.
Mohamad Hasbi berkeluarga denga Adayiyah orang sekampung kini tinggal di Taman Gombak Kuala Lumpur. Mat Hasbi merupakan pesara tentera dikurniakan lima orang anak iaitu Azman, Azhar, Nita, Nina dan seorang lagi bekerja di Dubai
Robaayah anak bungu Baghiyah bersuamikan Mohamad Sabtu inggal di Taman Indera Kayangan Kangar, Perlis. Merka berdua pesara guru dikurniakan empat orang anak aiatu Helmi seorang pegawai bank di Kuala Lumpur, Hilwani, Azri dan Aswani
(pembaca berkenaan harap kemas kini fakta dalam komen)
Terdapat banyak cerita dan kajian dibuat oleh pengkaji-pengkaji sejarah Bangsa Bugis. Di sini saya paparkan apa yang terdapat dalam Wikipedia dalam Bahasa Indonesia
LA MADU KELLENG DALAM WIKWPEDIA INDONESIA
La Maddukkelleng (lahir: Wajo, Sulawesi Selatan, 1700 - wafat: Wajo, Sulawesi Selatan, 1765) adalah seorang ksatria dari Wajo, Sulawesi Selatan. Pada masa kecilnya hidup di lingkungan istana (Arung Matowa Wajo) Wajo. Menginjak masa remaja ia diajak oleh pamannya mengikuti acara adu (sambung) ayam di kerajaan tetangganya Bone. Namun pada waktu itu terjadi ketidak adilan penyelenggaraan acara tersebut dimana orang Wajo merasa dipihak yang teraniaya, La Maddukkelleng tidak menerima hal tersebut dan terjadilah perkelahian. Ia lalu kembali ke Wajo dalam pengejaran orang Bone, lalu lewat Dewan Ade Pitue, ia memohon izin untuk merantau mencari ilmu. Dengan berbekal Tiga Ujung, (ujung mulut, ujung tombak, dan ujung kemaluan) ia berhasil di negeri Pasir (Kalimantan) sampai ke Malaysia, dan merajai Selat Makassar, hingga Belanda menjulukinya dengan Bajak Laut. Dia berhasil menikah dengan puteri Raja Pasir, dan salah seorang puterinya kawin dengan Raja Kutai. Dia bersama pengikutnya terus menerus melawan Belanda. Setelah sepuluh tahun La Maddukkelleng memerintah Pasir sebagai Sultan Pasir, datanglah utusan dari Arung Matowa Wajo La Salewangeng yang bernama La Dalle Arung Taa menghadap Sultan Pasir dengan membawa surat yang isinya mengajak kembali, karena Wajo dalam ancaman Bone. La Maddukkelleng akhirnya kembali lagi ke Tanah Wajo dan melalui suatu mufakat Arung Ennengnge (Dewan Adat), beliau diangkat sebagai Arung Matowa Wajo XXXIV. Dalam pemerintahannya, tercatat berhasil menciptakan strategi pemerintahan yang cemerlang yang terus menerus melawan dominasi Belanda dan membebaskan Wajo dari penjajahan diktean Kerajaan Bone, juga keberhasilan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Wajo
LA MADDUKKELLENG adalah putera dari Arung (Raja) Peneki La Mataesdso To Ma’dettia dan We Tenriangka Arung (Raja) Singkang, saudara Arung Matowa Wajo La Salewangeng To Tenrirua (1713-1737). Karena itulah La Maddukkelleng sering disebut Arung Singkang dan Arung Peneki.
Pada tahun 1713, Raja Bone La Patau Matanna Tikka mengundang Arung Matowa Wajo La Salewangeng untuk menghadiri perayaan pelubangan telinga (pemasangan giwang) puterinya I Wale di Cenrana (daerah kerajaan Bone). La Maddukkelleng ditugaskan pamannya (dia putera saudara perempuan La Salewangeng) ikut serta dengan tugas memegang tempat sirih raja. Sebagaimana lazimnya dilakukan di setiap pesta raja-raja Bugis-Makassar, diadakanlah ajang perlombaan perburuan rusa (maddenggeng) dan sambung ayam (mappabbitte).
Pada saat berlangsungnya pesta sambung ayam tersebut, ayam putera Raja Bone mati dikalahkan oleh ayam Arung Matowa Wajo. Kemenangan itu tidak diakui oleh orang-orang Bone dan mereka berpendapat bahw pertarungan tersebut sama kuatnya. Hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya keributan. Pada saat itu La Maddukkelleng turut serta dalam perkelahian tersebut yang mengakibatkan korban di pihak Bone lebih banyak dibandingkan korban pihak Wajo. Lontarak Sukunna Wajo menyatakan bahwa pada waktu terjadi perkelahian tersebut, terjadi tikam menikam antara orang-orang Wajo-Bone di Cenrana, saat itu La Maddukkelleng baru saja disunat dan belum sembuh lukanya. Melihat kenyataan tersebut (karena mereka di wilayah kerajaan Bone), maka orang-orang Wajo segera melarikan diri melalui Sungai Walennae.
Setibanya Arung Matowa Wajo La Salewangeng di Tosora, maka datanglah utusan Raja Bone untuk meminta agar La Maddukkelleng diserahkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya (dianggap bersalah). Arung Matowa Wajo mengatakan bahwa La Maddukkelleng tidak kembali ke Wajo sejak peristiwa di Cenrana. Utusan raja Bone itu kembali sekalipun ia yakin bahwa La Maddukkelleng masih berada di daerah Wajo, namun tidak dapat berbuat banyak karena adanya ikrar antara Bone, Soppeng dan Wajo di Timurung pada tahun 1582, bahwa tiga kerajaan itu harus saling mempercayai.
La Maddukkelleng datang menghadap dan meminta restu Arung Matowa Wajo dan Dewan Pemerintah Wajo (arung bentempola) untuk berlayar meninggalkan daerah Wajo. Saat itu bertepatan dengan selesainya pembangunan gedung tempat penyimpanan harta kekayaan di sebelah timur masjid Tosora serta gedung padi di tiga limpo. Anggota Dewan pemerintah Kerajaan Wajo (La Tenri Wija Daeng Situju) berpesan agar senantiasa mengingat negeri Wajo selama perantauan. Lalu La Maddukkelleng ditanya tentang bekal yang akan dibawa, ia menjawab bahwa ada tiga bekal yang akan dibawa serta yaitu: pertama lemahnya lidahku, kedua tajamnya ujung kerisku dan yang ketiga ujung kelaki-lakianku.
Dengan disertai pengikut-pengikutnya La Maddukkelleng berangkat dari Peneki dengan menggunakan perahu layar menuju Johor (Malaysia sekarang). Lontarak Sukunna Wajo memberitakan bahwa La Maddukkelleng dalam perjalanan bertemu dengan saudaranya bernama Daeng Matekko, seorang saudagar kaya Johor. Hal ini membuktikan bahwa lama sebelumnya orang-orang Wajo sudah merambah jauh negeri orang. La Maddukkelleng diperkirakan merantau pada masa akhir pemerintahan Raja Bone La Patauk Matanna Tikka Nyilinna Walinonoe, yang merangkap sebagai Datu Soppeng dan Ranreng Tuwa Wajo, sekitar tahun 1714
[sunting]La Maddukkelleng di Perantauan dan Asal Usul Kota Samarinda
La Maddukkelleng bersama We Tenriangka Arung singkang, dan pengikut-pengikutnya, mula-mula berlayar dan menetap di Tanah Malaka (Malaysia Barat), kemudian pindah dan menetap di kerajaan Pasir, Kaltim.
Dalam perjalanan rombongan tersebut, masih memegang adat tata dan norma kerajaan Wajo, La Maddukkelleng sebagai pimpinan. La Maddukkelleng mengangkat To Assa sebagai panglimanya. Mereka membangun armada laut yang terus mengacaukan pelayaran di Selat Makassar. Dalam perantauan ini juga La Maddukkelleng kawin dengan puteri Raja Pasir. Sementara itu salah seorang puterinya kawin dengan Raja Kutai (Sultan Muhammad Idris).
Pada saat itu, pemerintah Kutai dipimpin oleh raja bernama Adji Pangeran Dipati Anom Panji Mendapa Ing Martadipura, yang kerap pula disebut Adji Yang Begawan, memerintah pada tahun 1730 – 1732. setelah wafat, Adji Yang Begawan terkenal dengan sebutan Marhum Pemarangan. La Maddukkelleng, mempunyai tiga orang putera, yang kemudian beranak cucu dan berkeluarga dengan raja-raja di Kaltim. Ketiga anakanya ialah, Petta To Sibengngareng, yang turunannya kawin-mawin dengan raja-raja Pasir dan Kutai, Petta To Rawe, yang turunannya kawin-mawin dengan raja-raja Berau dan Kutai, serta Petta To Siangka yang turunannya kawin-mawin dengan raja-raja Bulungan dan Sulawesi Tengah.
Dalam rombongan La Maddukkelleng tersebut, ikut pula delapan orang bangsawan menengah, yaitu La Maohang Daeng Mangkona, La pallawa Daeng Marowa, Puanna Dekke, La Siaraje, Daeng Manambung, La Manja Daeng Lebbi, La Sawedi Daeng Sagala, dan La Manrappi Daeng punggawa. Karena tanah Wajo telah diduduki oleh kerajaan Bone, banyak pula warga Wajo yang meninggalkan kampung kelahirannya berlayar menuju Pasir dan menetap di Sungai Muara Kendilo. Tempat pemukiman baru tersebut lambat laun menjadi sesak akibat semakin bertambahnya migrasi dari tanah Wajo. Melihat hal itu, La Maddukkelleng mengadakan perundingan dengan pengikutnya. Hasilnya antara lain, diputuskan agar sebagian pengungsi Wajo itu mencari tempat pemukiman baru. Mereka pun memilih Kutai sebagai tanah pemukiman baru. Ketika rombongan itu sampai ke Tanah Kutai, La Mohang daeng Mangkona menghadap Raja Kutai Adji Pangeran Dipati Anom Ing Martadipura atau Marham Pemarangan. Ia memohon agar diizinkan menetap di tanah Kutai. Tetapi, sang raja berfikir, mugkin saja orang-orang itu malah akan membuat kesulitan seperti yang pernah dilakukan seorang temannya yang meminta hal serupa berpuluh tahun lampau. Pikir punya pikir, raja Kutai akhirnya setuju dengan satu syarat, agar patuh pada perintah raja.
La Mohang setuju dan berjanji apabila diberikan sebidang tanah ia akan mencari kehidupan di tanah Kutai, membangun daerah itu dan patuh pada titah raja. Disaksikan sejumlah pembesar kerajaan, sang raja bertitah “carilah sebidang tanah di wilayah kerajaanku ini di sebuah daerah berdaratan rendah dan diantara dataran rendah itu, terdapat sungai yang arusnya tidak langsung mengarah dari hulu ke hulir, tetapi mengalir dan berputar di antara dataran itu”. Orang-orang bugis itu pun berlayar sepanjang Sungai Mahakam mencari tanah seperti yang telah ditentukan raja. Setelah beberapa lama berlayar mengitari Tanah Kutai, akhirnya mereka menemukan tanah dataran rendah yang sesuai dengan titah raja. Di tempat inilah kemudian mereka membangun rumah rakit, berada diatas air, dan ketinggian antara rumah yang satu dengan lainnya sama. Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama-kelamaan ejaannya menjadi "SAMARINDA". Tempat itu lalu menjadi pemukiman orang-orang bugis wajo. Letaknya tak jauh dari kampung Mangkupalas, kampung tua di kecamatan Samarinda Seberang bagian tepi Sungai Mahakam, tempat pusaran air itu sekarang menjadi kompleks industri kayu lapis. Menurut cerita setempat, La Mohang Daeng Mangkona pengikut La Maddukkelleng itulah yang dianggap berjasa, mengembangkan Kampung Mangkupalas. Sebuah kampung tua yang kemudian berkembang menjadi Samarinda Seberang.
Setelah sepuluh tahun La Maddukkelleng memerintah Pasir sebagai Sultan Pasir, datanglah utusan dari Arung Matowa Wajo La Salewangeng yang bernama La Dalle Arung Taa menghadap Sultan Pasir dengan membawa surat yang isinya mengajak kembali, karena Wajo dalam ancaman Bone, tapi Wajo sudah siap dengan pasukan dan peralatan. Saat itu La Maddukkelleng menjadi Sultan Pasir, bertekad kembali ke Wajo memenuhi panggilan tanah leluhurnya, meskipun menghadapi banyak pertempuran.
Setelah itu La Maddukkelleng mengumpulkan kekuatan persenjataan dan armada yang berkekuatan perahu jenis bintak, perahu ini sengaja dipilih karena bisa cepat dan laju digerakkan. Perahu yang digunakan tersebut dilengkapi dengan meriam-meriam baru yang dibelinya dari orang-orang Inggris. Anggota pasukan La Maddukkelleng dibagi atas dua kelompok, yaitu pasukan laut (marinir) yang dipimpin oleh La Banna To Assa (kapitang laut) dan pasukan darat dipimpin oleh Panglima Puanna Pabbola dan Panglima Cambang Balolo. Pasukan istimewa tersebut seluruhnya merupakan orang-orang terlatih dan sangat berpengalaman dalam pertempuran laut dan darat di Semenanjung Malaya dan perairan antara Johor dengan Sulawesi. Pasukan ini terdiri atas suku Bugis, Pasir, Kutai, Makassar serta Bugis-Pagatan.
Armada La Maddukkelleng berangkat menuju Makassar melalui Mandar dan kemudian terlebih dahulu mampir di Pulau Sabutung. Dalam Desertasi Noorduyn dipaparkan bahwa dalam perjalanan menuju Makassar, dua kali armada La Maddukkelleng diserang oleh armada Belanda yaitu pada tanggal 8 Maret 1734 dan 12 Maret 1734. Dalam catatan Raja Tallo diberitakan bahwa armada Belanda yang terdiri dari enam buah perahu perang dapat dipukul mundur, perang ini berlangsung selama dua hari.
Lontarak Sukkuna Wajo menyatakan bahwa ketika armada La Maddukkelleng sedang berlayar antara pulau Lae-lae dan Rotterdam, pasukan Belanda yang berada di Benteng tersebut menembakinya dengan meriam-meriam. Armada La Maddukkelleng membalas tembakan meriam itu dengan gencar. Gubernur Makassar, Johan Santijn (1733-1737) mengirim satu pasukan orang-orang Belanda yang ditemani oleh Ancak Baeda Kapitang Melayu menuju pulau Lae-lae. Hampir seluruh pasukan tersebut ditewaskan oleh La Maddukkelleng bersama pasukannya. Melalui pelabuhan Gowa dia diterima oleh kawan seperjuangannya I Mappasempek Daeng Mamaro, Karaeng Bontolangkasa yang sebelumnya sudah dikirimi surat. Lalu kemudian Tumabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa, I Megana juga datang menemui La Maddukkelleng. Kemudian diadakanlah pertemuan yang membicarakan rencana strategis dan taktik menghadapi tentara Belanda.
Setelah armada VOC tidak dapat mengalahkan armada La Maddukkelleng, mereka melanjutkan pelayaran menuju Bone dan tiba di Ujung Palette. Ratu Bone We Bataru Toja, yang merangkap jabatan Datu Soppeng, sejak tahun 1667 menjadi sekutu Belanda, mengirim pasukan untuk menghadang armada La Maddukkelleng, dan menyampaikan bahwa topasalanna Bone (orang bersalah terhadap Bone) dilarang masuk melalui sungai Cenrana. Suruhan La Maddukkelleng menyampaikan balasan bahwa La Maddukkelleng, Sultan Pasir, menghormati raja perempuan dan tidak akan melalui sungai Cenrana, tetapi melalui Doping (wilayah Wajo) ke Singkang. Dalam Musyawarah dengan Arum Pone (merangkap Datu Soppeng), Arung Matowa Wajo mendapat tekanan dari Raja Bone untuk menyerang dan tidak memberi kesempatan masuk. Arung Matowa Wajo menjawab bahwa berdasarkan perjanjian pemerintahan di Lapaddeppa antara Arung Saotanre La Tiringeng To Taba dengan rakyat Wajo (1476) yang berbunyi Wajo adalah negeri mereka dimana hak-hak asasi rakyat dijamin.
Dengan melalui proses negoisasi dan dengan persiapan yang mantap, La Maddukkelleng dengan pasukannya masuk melalui Doping. Tanggal 24 Mei 1736 ditambah dengan tambahan pasukan 100 (seratus) orang Wajo, sehingga diperkirakan kurang lebih 700 (tujuh ratus) orang ketika tiba di Singkang. Karena La Maddukkelleng masih menghormati Hukum Adat Tellumpoccoe (persekutuan antara Wajo, Soppeng dan Bone), dia berangkat ke Tosora untuk menghadiri persidangan dengan kawalan 1.000 orang. Tuduhan pun dibacakan yang isinya mengungkap tuduhan perbuatan La Maddukkelleng mulai dari sebab meninggalkan negeri Bugis sampai pertempuran yang dialaminya melawan Belanda. La Maddukkelleng lalu membela diri dengan alasan-alasan rasional dan menyadarkan akan posisi orang Bugis di hadapan Belanda. Karena demikian maka tidak mendapat tanggapan dari Majelis Pengadilan Tellumpoccoe.
La Maddukkelleng kemudian ke Peneki memangku jabatan Arung yang diwariskan ayahnya, namun dalam perjalanan tidak dapat dihindari terjadinya peperangan dengan kekalahan di pihak pasukan Bone. La Maddukkelleng dijuluki “Petta Pamaradekangi Wajona To Wajoe” yang artinya tuan/orang yang memerdekakan tanah Wajo dan rakyatnya. Karena La Salewangeng (pemangku Arung Matowa Wajo) usianya sudah cukup lanjut untuk menyelesaikan segala persoalan, maka melalui suatu mufakat Arung Ennengnge (Dewan Adat), beliau diangkat sebagai Arung Matowa Wajo XXXIV. Pengangkatannya di Paria pada hari Selasa tanggal 8 November 1736. Dalam pemerintahannya, tercatat berhasil menciptakan strategi pemerintahan yang cemerlang yang terus menerus melawan dominasi Belanda dan membebaskan Wajo dari penjajahan diktean Kerajaan Bone, juga keberhasilan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Wajo
Saya telah membuat kajian mengenai keturunan dan asal usul Daeng Selili. Di sini saya paparkan versi salah seorang keturunan Daeng Selili iaitu Izham Ku Zaifah yang tinggal di Kota Lama Kiri
Daeng Selili adalah anak raja Bugis dari Luwu',belayar ke Mekah menuntut ilmu agama,balik kenusantara dan akhirnya menetap diPerak.Terkenal dengan gelaran Panglima Pancung Tak bertanya yang bawa maksu seorang yang alim melaksanakan hukum syariat Allah.Berkahwin dengan Che' Ulung,mendapat 4 orang anak 1) DaengTok Enggang 2) Serimaharaja Daeng Tok Tongkat 3) Daeng Tok Bakul atau Nor Jelisim 4)Serimaharaja DaengTok Othman (kuburnya dibelakang Masjid Kota Lama Kiri).Saya adalah generasi 8 keturunan Daeng Selili.Sogheh saya macam ni,Daeng Selili+Che Ulung dapat anak nama Daeng Tok Tongkat.Daeng Tok Tongkat+(tak dapat maklumat) dapat anak namanya Daeng Kanda Adam.Kanda Adam+Daeng Alang Maimunah(kahwin Sepupu,Daeng Alang Maimunah adalah anak kepada Daeng Tok Othman).Depa kawin dan dapat 8 anak,salah soghangnya Daeng Itam Said.Daeng Itam Said+Itam Ra'yah Bt Kanda Mu'min dapat 3 anak,salah soghangnya Kanda Alang Rastam kahwin 3 kali.Salah soghang dengan Puteri Teh Khatijah.Salah soghang anak Kanda Alang Rastam ialah Tun Mohd Aleh.Tun Mohd Aleh kawin 2 kali 1)Che' Andak bt Hj Mohd Said dan 2)Ngah Jamilah Bt Kanda Jenal.Ngah Jamilah pernah kahwin dengan DYMM Sultan Perak ke 24,Almarhum Sultan Ali Al-Mukammal Inayat Shah yang mangkat di Sayong tahun 1874.Dengan Ngah Jamilah depa dapat soghang anak iaitu Tun Mohd Edham yang lahir tahun 1880.Tun Mohd Edham kawin dengan Aishah Bt Hj Harun yang datang dari Anak Bukit Kedah,dan dapat 9 anak salah sorang nama Tun Ku Zaifah,kahwin dengan Jawahar Bt Syeikh Hj Abdul Kadir Al-Marbawi Bin Hj Abdul Raof Al-Marbawi dan dapat 6 anak.Salah sorangnya Tun Izham iaitu teman lee........
Syukur Alhamdulilah,saya tau nasab ketughuunan saya sampe Daeng Selili sebab Arwah Tok Saya,Tun Mohd Edham ada buat buku salasilah ketughunan kami,buku ni dibuat tahun 1932,masa tu ayah saya pun tak ada lagi.Untuk makluman semua,oghang Kota Lama Kighi memang satu peghodu,kami punya jughai ketughunan mula daghi Seri Maharaja Daeng Tok Tongkat,anak kedua Daeng Selili.Untuk makluman semua juga,segala ketughunan Wan,Megat,Syed yang ada dalam Kuala dan diselughuh Negeri Perak ni semuanya sangkut paut.Semuanya daghi Daeng Selili.Itu le sebabnya Orang Besor 4,8,16,32 bukan kaum puak lain,pusin-pusin balik kesitu juga.Adik beghadik sedaghah sedagin sepusat sepusin,kate oghang tua.Sekighanya ada sesapa yang nak tengok buku salasilah teman ni,dipersilakan dengan hormatnya.
Cucu Busu Manjang bersama Ngah Saadiah seterusnya ialah Teh 'Aishah binti Alang Ahmad berkulurga dengan Mat Daud, meraka dikurniakan dua oarng anak sahaja iaitu Abdullah Sani dan Zainun Hamzah.
Keluarga Abdullah Sani berieterikan Umi Salmah tinggal di Sayung Lembah dekedatan penambang sampan sugai perak di Kuala Kangsar. Mereka dikurniakan ramai anak seramai sepuluh orang. Semua anak lelaki bermula dengan Amir, anak pertama Amir Shabudin beristeri orang Talang Hilir dan tinggal di Simpang Tiga Talang berdekat kedai gunting Wa yang merupakan iparnya. Kedua Amir Jalaludi seorang pesara kakitangan bandaraya Kuala Lumpur tinggal di Setapak, Amir Mazlan tinggal di Sayung Lembah Kuala Kangsar' Pasangan Abdullah Sani dengan Umi Kalsum dikurniakan tia anak perempuan iaitu Sharibatuk Rabitan merupa seorang guru di daerah Kuala Kangsar seorang guru besar SK Kota Lama Kanan, anak perempuan yang lain ialah Noriah mengikut suaminya Isamail ke Pucung, Selangor dan ketiga Mashitah tinggal di Sayung. Anak lelaki Abdullah Sani seterusnya ialah Amir Redzuan berkerja sendiri tinggal di Chandan Putri, Kuala Kangsar, berikutnya Amir Muhayudin berkerja sendidri sebagai tukang gunting tinggal berdekatan rumah asal, berikutnya Amir Hamzah bekerja sebagai wartawan berkeluarga dengan orang kedah tinggal di Alor Star. Aanak bongsunya ialah Raslan bekerja sebagai pegawi Bernas tinggal di Kuala Lumpur.
Keluarga Zainun Hamzah bertemu jodoh dengan Rapidah orang Pedang Rengas. Mereka dikurniakan sebelas orang anak. Pertama Mohd Yusuf seorang pensyarah kanan di School of Managment USM Pulau Pinang tinggal di 6,A Company, USM. Penang, Kedua Adli seorang kakitangan PembantuPerubatan di Hospital Kuala Kangsar, Mohamad Fatia tinggal di Ampang Selangor,. Dr. Zaitul Azma penyarah kanan UPM berkelulusan PHD dalam Dept of Malay Language , Liza seorang pegawai bank di Kuala Lumpur, Rozaidin seorang eksuikitif Petronas , Kuala Lumpur, Zeet seorang pesara RISDA tinggal di Kuala Kangsar, Busu pegawai syarikat Scuriti, Mohamd Yatio tinggal di Kelantan membuka syarikat arkitek. Asrul dan Ida berkerja sebagai kakitangan RISDA di Kuala Kangsar,
Busu Manjang mempunya tiga isteri pertama Itam Jaaliah, kedua Ngah Sabiah dan ketiga Saadiah.
Dengan isteri ketiga dikurniakan dua orang anak iaitu Alang Ahmad dan 'Aishah.
Keluarga Alang Ahmad.
Alang Ahmad bertemu jodoh dengan seorang perempuan berketurunan Bengal Islam bernama Alang Yah, dikurniakan enam orang anak iaitu Abu Kassim, Enggok, Hapipah, Teh 'Aishah, Bagyah dan Mahiyah.
Abu Kassim bertemu jodoh dengan Mariam binti Mat Arif dari Semanmggol, Bagan Serai dikurniakan beberapa orang anak, sebelum dikurniakan anak sendiri meraka mengambil anak angkat diberina Abdul Jalil. Belia dijodohkan dengan orang Sayong bernama Putih dikurnia dua orang anak perempuan iaitu Jamilah (istemewa kerana bisu) dan berkeluarga tinggal di Sayung, kedua Siah berkeluarga dengan Mior Ahmad dikurnia ramai anak seramai sebelas orang diantaranya Mieor Mohd Sabri seorang guru di Bagan Serai, Mior Jamil tinggal di rumah tua di Talang Hilir jalan Datok Sagor, Mior Halim bekerja sebagai ahli Bomba di Kuala Kangsar, dan beberapa orang sebagai anggota polos seperti datoknya Jalil seorang polis. Mereka yang jadi anggota polis ialah Jumat dan Razak.
Anak kedua psangan Abu Kassim dengan Mariam ialah Esah berkeluarga dengan Abas Haji latif keturunan Daeng Selili (boleh ikuti keluarga Hj Abas bin Hj Latif bin Imam Kolah--Jan . 2 - 2009)
Anak ketiga pasangan Abu Kassim Mariam ialah Mohd Ideris berkeluarga dengan Cik Tam bermustautin di Kemunting di Taiping. Mohd Ideris semasa hayatnya seorang pegawai Penjara di Taiping. Anak sulungnya Mohd Zahid tinggal di Simpang Tiga Talang, Kuala Kangsar dengan membuka kedai roti canai berdekatan dengan setesyen minyak Shell di Simpang Tiga Talang. Anak-anak pasangan Idris Cik Tamiaitu Abdul Rani dan Hariah di Kemunting Taiping dan Jariah tinggal di Simpang Changkat Jering Taiping, Hariah merupakan bekas penelia Kemas Taiping dan Jariah pesara kakitangan Hospital Taiping. Mereks semua telah berkeluarga dan beranak cucu. Anak yang bungsu pasanagn ini Mohamad Hafis seorang anggota polis di Bandar Tun Razak Selangor dan masih bertugas
Anak keempat pasangan Kasim Mariam ialah Rodiah berkeluarga dengan Hat, meraka bertuga di Jabatan kesihatan Kuala Kangsar , Rodiah seorang bidan kerajan di Kota Lama Kiri tahun 60 dan 70an manaka Hat seorang attenden Hospital Kuala Kangsar. Mereka ini dikurniakan dua orang anak sahaja. Baharudin merupakan seorang posman di Pejabat Pos Taing berkeluarga dengan Faridah Ibrahim tinggal di Kemunting Taiping. seorang lagi perempuan Zaini juga seorang bidan kerajaan berugas di Sungai Lesong Kampat bertemu jodoh dengan Shirin bermustautin di Sungai Lesung Kampar, juga merupa arwah dan beranak cucu di sana.
Anak bungsu pasangan Kasim Mariam ialah Hendun berkeluarga dengan Ali Cerut(nama gelaran) bermustautin di Talang Hilir jalan Datok Sagor. Psasngan ini dikurniakan ramai anak yang sulung Ismail nama gelaran Tee tinggal di Datok Keramat Kuala Lumpur berkeluarga dengan Kamariah. Ismail merupakan pesara tentera bermenantu dan bercucu. Adik-adiknya Baariah, Esah tinnggal di Pulau Pinang, Abdula Ghani berniaga ikan keli di pasar Kuala Kangsar, Abdul Aziz (puya) di Manjung, adik Su tinggal di rumah tua di Talang Hilir dan Mat Aris seorang kakitangan JPS di Taiping berkelurga dengan seoraqng guru.
Anak anak Alang Ahmad Alang Yah yang lain ialah Enggok, Hapipah, Teh 'Aishah, Ba'yah dan Mahiyah (akan dikemas kini kemudian)
Semasa Daeng Selili berada di Perak dan berkhidmat dengan Sultan Perak, mengenang jasanya Sultan Perak mengawinikan DS dengan adiknya Raja Tengah. Mereka dikurniakan empat orang anak iaitu Daeng Abdullah dengan gelaran Tok Anjang, Daeng Osman dengan gelaran Seri Maharaja, Daeng Mohammad Kader @ Daeng Mat Tara dengan gelaran Tok Tongkat dan yang akhirnya Daeng Nurjilisan (perempuan)
Daeng Tok Anjang dikurniakan seorang anak bernama Daeng Sura ialah bapa kepada Imam Kolah merupakan darah keturunan waris teras penulis. Anak Imam Kolah anaknya Haji Latif, cucunya Haji Latif Abas merupakan ayah penulis (Pakdenoran)
Manaka Daeng Osman atau Tok Seri Maharaja Lela merupakan orang kuat Istana sampai beberapa keturanan menjadi Temenggong dan Penghulu Mukim di daerah Kuala Kangsar. Tok Maharaja Lela berkahwin dengan Toh Kemala Dewi dikurniakan lapan orang anak iaitu Long Loya bersuamikan Bendahara Peduka Raja dengan bermulanya keturan Megat dengan pertama Megat Kassim dan Megat Metaha, Anak kedua Maharaja Lela kedua Ngah Manan, ketiga Alang Maimunah, keempat Andak Radiah, kelima lelaki Anjang Sari, keenam Uda Tahir, ketujuh Busu dan yang bungsu kelapan Nuteh bersuamikan Raja Muda Chulan.
Anak Daeng Selili seterusnya Daeng Nur Jalisan bersuamikan Tok Pandak dikurniakan dua orang anak iatu Dol Fatah dan Imam Muhamad.
Seterusnya anak Daeng Selili ialah Daeng Muhamad Tara @ Daeng Muhamad Kader lebih dikenali dengan Tok Tongkat. Daeng Mat Tara dengan pangkat Tok Maharaja Lela beristerikan Bidan Jalibah dikuniakan beberapa orang anak antaranya Abdul Razak, Nursatin, Kanda Adam, Busu Manjang dan Khatib Manjang.Busu Manjang merupakan datuk nenek menulis.
Busu Manjang dengan Itam Jaailah dikurniakan lima orang anak, pertama Hajah Halimah, kedua Ngah Karim, ketiiga Anjang Saadiah keempat Uda Bait dan kelima Fatimah. Keluarga Halimah bin Busu Manjang telah diceritakan dalam tulisan terdahulu.
Keluarga Ngah Karim bin Busu Manjang
(Penulis tak dapat mengesan siapakah isteri Ngah Karim, penulis harap sesiapa yang ada maklumat boleh tulis dalam komen)
Ngah Karim dikurniakan tujuh orang anak. Pertama Teh Tijah dikurniakan beberapa orang anak iaitu Abu, Hamiah, Rajngah, Kamat dan Haji Mohamad
Anak kedua Ngah Karim ialah Ngah Mandam, dikurniakan beberapa orang anak iaitu Yeop Rendah keluarga ini termasuklah Hasan Pomen dengan anak-anaknya Nan, Kama dan beberapa orang keluarga terlibatkan dengan makanik kereta termasullah Mat Nor seorang makenik di Jalan Datok Sagor Kuala KangsarAnak-anak Ngah Mandam yang lain ialah Ngah Rahmah, Ealang, Nik, Abdul Latif, Hendun dan Hamsiah.
Anak Ngah Karim ketiga ialah Alang Saemah dikurniakan beberapa orang anak iaitu Mat Yasin, Kamilah, Mahiah, Nuntak Hajah Zauwah, Uteh Rodiah.
Anak Ngah Karim seterusnya Andak Tekah mempunya beberapa orang anak iaituy Kulup Jidin, Nghah Rapidah,dan Teh.
Seterusnya anak NgahKaim Anjang Dapat dikurniaka n anak Rogayah, Saadiah, Ibrahim dan Rokiah.
Terdapat beberapa ujian dan cobaan keimanan keluarga haji Abas pada awal tahun 2010 ini.
A. Pertama pada awal Januari anak tua Haji Abas Fatimah yang tinggal di Jalan Kenas Kuala Kangsar diserang strok dan dimasukan ke Ipoh Specialist Centre Ipoh. Dia telaj mendapat koma selama beberapa minggu akhirnya meninggal dunia pasa 27 Januari hari Rabu.
B. Selang bebepa hari lepas itu cucu menantunya isteri kepada cucunya Khairul Azhar bin Ramli meninggal dunia dalam tidur pada hari Sabtu. Diceritakan anakanaknya tidur ditingkat atas dan ibunya tidur ditingkat bawah di rumah teres dua tingkat disebabkabkan hari cuti masing-masing bangun lewat kira-kira tengah haridan anaknya yang sulung merasa lapar dan mengejutkan ibunya yang sangkakan tidur tetapi tidak bangun kemudian berkejar kerumah ibu saudaranya yang tinggal berdekatan selang beberapa pintu. Ibu saudaranynya mendapati adik ipanya telah meninggal dan te5rus memanggil dokor dan disahkan telah meninggal lapan jam yang lalu. Mana kala adiknyaKhairul Azhar bekerja di Arab Saudi dan membuat panggilan kepadanya tetapi tidak berjawab. Akhir membuat keputusan dikebumikan juga hari itu juga dan selamat dikebumikan sebelum magrib di tanah perkuburab Bandar Tun Husian On. Manakala suaminya sengaja balik dari Arab ke Malaysia dengaqn transit di Manila dan mendapat tahu di Manila apabila hnadset dibuka untuk membaca SMS dan tiba di Kuala Lumpur pukul 2.00 tengan malam pagi Ahad.
C. Selang seminggu lepas itu menantu Haji Abas Marym Aznin isteri penulis pula meninggal dunia kerana kancer. Urutan kejadian ini bermula Maryam dan suaminya paldenoran dan anaknya Maizuran dan anak angkatnya Salbiah mengerjakan umrah pada 14 jan. Dua minggu sebelum bertolak ke Mekah Maryam telah mula sakit batuk-batuk dan seminggu sebelum bertolah telah membuat pemeriksaan di HUKM dan doktor sahkan dia mendapti paru=parunya berair, dionasihatkan tangguhkan umrah tetapi dia tetap mahu pergi juga. Doktor telah menulis surat setebal tiga halaman menerangkan penyakitnya. Bermula dengan kerusi roda ditolah oleh keluarganya ke Arab Saudi. Di dalam kapal terbang dia telah beberapa kali disedutkan oxygen. Semasa perlajanan ke Madinah tidak ada banyak masalah tetapi masih batuk-batuk. Pada malam kedua di Madinah dia batuk-batuk dan sesak napas dan dikejarkan ke klinik swasta, dixray dan perikasa darah dan diberi sudutan oxygen pulihlah sedikit dengan dikenakan bayaran ARS 500.00.
Dalam perjalanan ke Mekah dan mengerjakan umrah tidak menimbulkan masalah cuma batuk-batuk kecil sahaj tepai negan mengupah tolak kerusi roda tawaf dan sai dengan bayaran ARS200.00. Waktu ziarah dan umrah kedua pun tiada masalah cuba badanya lemah kerana tidak lalu makan dan batuk-batuk kecil sahaja. Apa bila melawat ke Taif tempatnya tanah tinggi dan udaranya nipis dan suhunya pula sejuk menimbulkan banyak masalah pada pukul 12.00 tengah malam lagi sekali dikejarkan ke Hospital Taif dengan ambulance juga diperiksa darah dan xray dan dan sedutan oxygen, doktor dapati ubat yang diberi di Madinah tidak berkesan pada penyakitnya dan paru-paru berair disebabkan kanser paru-paru pada paginya dikejarkan balik ke Mekah.
Semasa di Mekah lagi sekali dibawa ke Hospital Mekah berekatan dengan pintu King Abdul Aziz baitullah. Disama periksaan lebih rapi disahkan kerana kanser dan keluarga mahu bawa pulang dengan segera tetapi doktor syorksn masuk wad sekurang-kurang sepuloh hari tetapi keluarga tetap mahu bawa pulang tetapi vdoktor kata dengan bekalan oxygen di kapal terbang. Agensi menetapan balik dengan mengikur rombonganya bali pada hari sabtu tetapi dengan kesilapan teknikal dibatalkan walau telah membuat ckek ini dan belum boarding kerana bekqalan oxygen dalam kapal terbang dikehendaki booking sehari sebelum penerbangan akhir pulangh mengikut jadual asal 26 jan dan tiba di KL 27jan tengah hari.
Sampai di rumah keluarga pada malam 27hb batuk-batuk dan sesak nafas dikejar lagi ke HUKM dan masuk wad pukul 1.00 pagi 28hb. Di HUKM pemeriksaan semakin rapi dilaporkan semua ubat yang diberi tidak berkesan cuma doktor bagi antibiotik dengan dos yang kuat. Selama dua belas hari pada hari Isnin 8hb Feb 6.45 petang dia telah kembali ke rahmat ALLAH dihadapan keluarga, keluarga terdekat dan sahabat handai terdekat. Jenazahnya dibawa kerumah abangnya di Shah Alam dan dikebumikan di seksyen 21 tanah perbukuran Shah Alam pada hari Selasa
Kami keluarga yang hidup dari keluarga Haji Abas mengucapkan terima kasih kepada sesiapa saja yang menziarahi keluarga kami dan sama-samalah kita sedekah fatimah untuk kejehteraan mereka di akhirat, alfatihah........ amin.
Seluruh keluarga besar Imam Kolah dengan Anjang Saadiah adalah ketrunan Daeng Selili. Imam Kolah anak kepada Daeng Sura cucu Daeng Abdullah atau Tok Anjang atau Tok Enggang cicit kepada Daeng Selili manakala Anjang Saadidiah anak Busu Manjang cucu Daeng Mat Tara atau Tok Tongkat cicit kapada Daeng Selili jadi mereka berkahwin dua sepupu atau semoyang.
Keluarga ini meliputi anak cucucicit Hajah Inah bermula dari Ahmad Saad, Abdul Hamid dan Mat Jihin mereka ini kebanyakan menetap di Sayung, Kuala Kangsar. Keluarga kedua ialah dari anakcucucicit Andak sariah terdiri dari Keluarga Mat Noh, Hassan dan Robiah di sayong dan di Manong Seterusnya dari keluarga Haji Latif terdiri daripada anakcucu Haji Majid di Nibong Tebal Pulau Pinang, Rokiah, Abas dan Rashidah di Sayung dan Talang Kuala Kangsar. Seterusnya keluarga besar Ibrahim dengan anak-anaknya Ali Osman, Alang Jemari, Anjang Sadah, Putih Rahmah dan Itam Razak kebanyakan mereka di Sayung,
Keluarga Itam Abu Bakar, Abdul Rahman, Ngah Nordin( Pek), mereka ini menetap di Sayong Lembah, Abdul Rahim di Taiaping, menakala Taharim di Padang Assam, Mahadi di Lubuk Merbau, Mat Som @ Abdul Razak di Sungai Rokam Ipoh dan terakhir Mat Ali.
Keluarga Putih Tijah iaitu Umi Kelsum, Ainah dan Hasmah, keluarga Timah, Teh Som dan Meah berkeluarga di Sayung. Mahmud dengan keluarga Mat Adam, Maimunah dan Saayah di Manong Yang bongsu Chu Yan dengan keluarga Kasim, Nazri di Ipoh Sulaiman dan Hasnan di Sayong dan Anson di Padang Rengas. Dengan ini kebanyakan keluarga Imam Kolah dengan Anjang Saadiah di Sayung Kuala Kangsar. Keluarga besar Busu Manjang mentua Imam Kolah bapa Anjang Saadiah juga keturunan Daeng Selili kebanyakan di Sayung dan Kota Lama Kanan Kuala Kangsar.
Kami anak-anak keturunan Daeng Selili telah dijemput ke Selawasi di kawasan tanah Wajo. Kami seramai 32 orang telah sampai di Tawau dan wakil di Tawau En Indera menyambut kami di lapanganterbang Tawau dan dibawa ke rumah rumah bapanya Haji Abdul Wahab. Semasa pertemuan keluarga besar Daeng Selili kami dapat melihat daftar besar keturunan Daeng Selili tetapi kebanyakannay berkisar di Wajo dan Kalimantan Samarinda dan boleh dikatakan tiada keturunan Daeng Selili di Perak. Ini berkemungkinan dikatakan tiada maklumat dari Semenanjung. Dengan beberapa kesilapan tenik dan pengurusan kami dari semenanjung tidak dapat ke Selawasi. Ramai di antara kami menunggu jadual pulang ke semennanjung dan ada yang balik lebih awal lagi dengan bayaran tambahan.
Keluarga yang turut serta dalam rombonhan itu
1. En Ahmad Satar bin Mahadi. 2. En. Taharim bin Ibrahim 3. En, Hamdan bin Ibrahim 4. En. Ahmad Noorhani bin Abas 5. En. Ahmad Azam bin Md Salleh 6. En. Asmat bin Abdullah 7. En. Halim Azizi berlima sekeluarga 8. En. Kamaruzzaman bin Abdul Rahman suami isteri 9. En Jamnul Azlin bin Mulkan berlima skeluarga 10. En. Mohd Kheri Abd Aziz suami isteri 11. En. Mohd Faizal bin Mohamad suami isteri 12. En. Danial bin Mohamad 13. En. Maizul Sham bin Mohamad berlima sekeluarga 14. En. Khairul Azhar bin Abdul Karim bertujuh sekeluarga 15. Haji Mohd Azmi bin Hj Mohamad duabelas sekeluarga 16. En. Johan bin Abdul Karim.
Dikatakan Wajah Daeng Selili
Sebahagian daripada Wali-Wali ALLAH dari Seluruh Dunia
Gambar-Gambar Rombongan Keluarga Daeng Selili dari Semenanjung
Bapak Syaiful dari Tawau
Buku Kisah Daeng Selili di Selawasi dan Kalimantan
Daftar Salasilah Daeng Selili di Sulawasi dan Kalimantan Bapak Indera
Busu Manjang merupakan cucu kepada Daeng Selili. Daeng Selili mempunyai empat isteri dan salah seorang isterinya Raja Tengah anak Sultan Muzafar Shah II. melaluinya wujudlah keturunan Daeng Selili di Perak, kebanyakannya tinggal di Kuala Kangsar di Kampung Sayung, Kota Lama Kanan dan Kiri. Dengan Raja Tengah DS mempunyai empat orang anak iaitu Daeng Osman, DaengNurjilisan (perempuan), Daeng Abdulah yang dikenali dengan Tok Anjang dan Tok Enggang dan yang keempat Daeng Mat Tara dan dikenali dengan Tok Tongkat atau Daeng Mohd Kader. Tok Tongkat beristerikan Bidan Jelibah dikurniakan beberapa orang anak iaitu Abdul Razak, Nur Satin(perempuan) Kanda Adam, Busu Manjang dan Khatib Panjang.
Busu Manjang mempunyai tiga orang isteri ia itu Itam Jailah, Ngah Sabiah dan Ngah saadiah. Melalui isteri pertamanya Itam Jailah dikurniakan lima orang anak iaitu Halimah, Ngah Karim, Anjang Saadiah,Uda Bait dan Fatimah, melalui isteri kedua Ngah sabiah cuma dua orang anak sahaja iaitu Andak Pauh dan Putih Lam, dengan Ngah Saadiah juga dua orang anak iatu Alang Ahmad dan Chu Esah.
Keluarga Busu Manjang dengan Itam Jailah. anak pertamanya ialah Halimah yang meninggal di Makah semasa membuat haji,(pada masa dulu orang pergi ke Mekah menggunakan kapal layar dan berkeluarga berada dan warak. Halimah dikurniakan beberapa orang anak iatu Haji Mat Taib, Ngah Saenah,Alang Maarof, Pandak Mat Dom, Anjang Pekah, Haji Maakob, Hajah Tijah dan Mat Arof.
Keluarga Halimah binti Busu Manjang
Haji Mat Taib mempunyai beberapa orang anak iaituu Ngahg halimah, Alang Bee dan Pandak Ahmad. Keluarga Alang Bee tinggal di Sayung Masjid, Kuala Kangsar.
Ngah Saepah mempunyai beberapa orang anak iatu Sauyah, Alang Endut, Puteh Enah, Mohd Daud dan Haji Karim. Saayah tinggal di Kati anakanaknya Sabatiah dan..... anak tunggal Sabatiah Kamarudin diKati Keluarga Alang Endut bermustautin di Kuala Terap anak-anaknya Mak Wok, Wah dan Kak Ami Anak-anak Mak Wok iaitu Fuzi diPadang Changkat, Jamnah di Taipng dan Yong di Silibin Ipoh, Wah Naemah dan Mat om di Jengka Pahang. dan Kak Ami tinggal bersama anak menantu Suari dan suami Alias dan cucunya.Anaknya yang sulung Faridah pesara pekerja di hospital Ipoh tinggal diKampung Ahmad said, Ipoh,anak-anak yang pain Munir pesara tentera tinggal bewrdekatan dengan rumah ibunya dan yang lain bekerja di Kuala L:umpur. Keluarga Mohd Daud pula banyak tinggal di Kuala Terengganu iaiatu kawasan Bukit Payung, anaknya yang sulung Shamsul Arifin tinggal Atas Tol, kedua Moh Hamidi tinggal di Pengadang Baru, ketiga Sariah tinggal Atas Tol Kuala Tengganu, keempat Sulaiman(Budin) tinggal Jitra Kedah, seterusnya Inun Rodzaih (Fatimah) tinggal Bukit Chandan Nur Ishak tinggal di Neram Kuala Terengganu dan salah seorang cucu MDaud tinggal di Bukit Chandazn bernaba Seno dan seorang lagi cicitnya Azman bin Mohd Noor polis di Parit, Perak Keluarga Haji Abdul Karim mempunyai seorang anak perempuan apayang penulis panggil Kak Bee isteri kapada Zulkifli tinggal bersama-sama anaknya di Talang Hilir Udin Kuala kangsar, Hosni seorang polis isterinya anak angkat Nohat, dan...... dan Satar Isteri Nohat tinggal di Kati, anaknya ..... Mana kala Puteh Enah berkampung di Kuala Terap anak tunggalnya Aishah berkeluarga di Kati anak-anak Aisah yang tua Halimah di Rangcangan Ijok, Mat Arif di Ipoh, Tajul Arifin di rancangan Seratok, Pahang dan Nor Ain isteri Zulkifle cucu Che Leah tinggal di bandar RaubPahang.
Keluarga Pandak Mat Dom pula meninggalkan beberapa orang anak iaitu Mat Baharom, Alang Maarof, Haji Yahaya, Haji Mansur, Mariam dan Ngah. Keluarga Alang Maarof berkisar di Kampung Laksa Kuala Kangsar, belakang Sekolah Menengah Chong Wah, Kuala Kangsar.; Cuma beberapa keluarga yang masih ada iaitu keluarga Kelsum, keluarga Rokiah(arwh) keluarga Ismail (arwh) Keluarga Sharun(awrh) keluarga Husin (arwh). Keluarga Rokiah ndan Ismail ada yang jadi guru berkhidmat di Kuala Kangsar, Sorang lagi anak Alang maarof , Ibrahim pesara RRI tnggal di Kuang Selangor.Keluarga Haji Mansur bermustautin di Kuala Lumpur dan salah seorang anaknya menjdii pegawai polis.
Keluarga Hajah Tijah mempunya anak Leah, Alang Dain, Jaridah, din dan Husin. Keluarga Leah berkampung di Chua Hilir, Kati, Kuala Kangsar. Yang masih berada di sana ialah cucunya anakanak Abdul Hamid cikgu Ali bin Abdul Hamid (pesara) Ahmad Fuad pegawai imegrasyen di Johor Baru dan Lop Ahmad Anak kedua Che Leah, Aishah bersuamikan Abdul Aziz, anak-anaknya Zulkifli di Jengka 8 Pahang, Maheran di Changkat Jambu, Habsah tinggal tua, Uztad Mansalman guru KAFA Changkat Payung, Kati beristerikan anak angkatpenulis Salbiah, cikgu Abdul Aziz Omar mengajar di SK Lubuk Merbau tinggal Liman Kati, Alawiyah di Kampung Melayu Subang, Selangor, Sabiah berdekatan dengan rumah tua dan Anisah mengikut suamipegawai penjara di Alor Star. Keluarga yang lain Alang Dain, Jaridah. Din dan Husin berkampung di Paya Renggam Padang Rengas dan seorang anaknya mengusahan perkhimatan bas sekolah dan yang lain terputus hubungan.
Haji Mat Arof cuma mempunya seorang anak sahaja iaitu Mohd Shaarin. Hajiarwh ini mempunya beberaspa orang anak, iatu Hishamudin tinggal di Chuar Kati mempunyai beberapa orang anak iaitu Hamimi seorang guru di Tasik Putri Selangor, Bakri berniaga di Kepala Batas PPinang dan beberapa orang anak perempuan, anak Shaarin yang lain Zainal Badri pesara pegawwai Pertonas bermustautuin di Pulau Pinang dan anak-anaknya tinggal di Kuala Lumpur seorang menjadi guru Azlina, seorang pegawai Petronas Shamsul Bahar,dan seorang lagi berniaga di KL. Seorang lagi anak Haji Shaarin Nazran tinggal di Shah Alam Selangor bersara dari seorang pegawai ekskutif syarikat swasta. Dua orang anaknya jurutera Petronas Azmi dan Azman dan dua lagi anaknya masih lagi belajar di IPTA. Anak bongsunya Mariam Aznin pesara kerajaan tinggal di Bukit Chandan, Kuala Kangsar, mempunyai anak seorang jurutera syarikat swasta di HighTech. Kulim Nurul Ihsan, seorang lagi pensyarah di UiTM Shah Alam Nur Maizura dan seorang lagi pegawai bank diCIMB Kuala Lumpur Nurul Affendi dan dua orang lagi masih menganggur berijazah jurutera dan ICT.
p/s para bloger yang membaca blog ini cuba respon membetulkan jika ada fakta yang salah dalam ruangan komen.
Perjumapaan di rumah penulis dari kiri Daeng Razali, penulis, En, Fuad dan En Sallehudin
Keris pesaka simpanan En. Fuad Osman di Padang Changkat
Kepala naga di tongkat simapan En Ahmad Satar
Tongkat Pesaka
En Ahmad Satar dengan Tongkat Pesaka
Pada pertengahan Disember pakdenoran telah membuat perbincangan awal bagi menentukan kedudukan kelauarga dalam salasilah Daeng Selili. Pebincangan pertama diadakab di rumah Ahmad Satar Mahadi diserta Azmi Kader, Halim Aziz, Khairul Azhar, Raja Azmi, Taharim Ibrahim dan beberapa orang lagi dalam keluarga besar Daeng Selili. Di situ Ahmad Satar mengesahkan bahawa anak cucu Imam Kolah adalah keturunan Daeng Selili dengan menunjukan bukti bahawa dia mendapat tongkat warisan Tok Tongkat. Perbincangan berikut di rumah Fuad Osman di Padang Changkat di hadiri penulis, Ahmad Satar,Azmi dan DR Sulaiman perbincngan berkisar mengenai kekeluargaan Daeng Selili. Di sana kami dapat beberapa panduan mengenai kehidupan Daeng Selili antaranya kekeluarga DS mendapat detik istemewa jika bertemu walau pun tidak mengenali anrtara satu dengan lain kalau berinteraksi akan merasa kekeluargaan, anak cucu DS tidak boleh tiga perkara iaitu berkawan dengan anak raja, berkahwin dengan anak raja dan menjadi hamba raja dan lain-lain lagi akan sisambung kemudian.
Pertemuan berikut di rumah penuli disertai Fuad Osman dan Sallehudin Yang Razali juga berkisar mengenai kekaluargaan DS dan Sallehudin mendqpat beberapa bakat dari pesonaliti DS hinggakan beberapa anak-anaknya dipakalkan Daeng. Seeterunya di rumah pesaka Ngah Kijang di Sayong Lembah perbincangan berkisar kehidupan pesenoliti Daeng Selili dan bakat terunanan Daeng Selili pada terunanannya. Perbincangan ini diserta emapt orang anak Ngah Kijang iaitu Norizan, Razman, Fadlillah dan seorang lagi, penulis, Ahmad Satar, Taharim Ibrahim, dan Halim bersama isterinya.
Mengikut kajian yang saya buat perpandukan beberapa orang ketuurunan Daeng Selili kini dipertunjukan pokok terunanan Imam Kolah dan Anjang Saadiah, maka semua anakcucu mereka adalah dari keturunan Bugis Daeng Selili. Perlu diingat daeng selili mempunya beberapa orang isteri dan ramai anak maka ramailah keturunan Bugis Daeng selili yang lain seperti keturunan Daeng Hasanah, Daeng Osman, Daeng Abdullah, Daeng Mat Tara (ToknTongkat) Daeng Nurjilisan dan beberapa orang lagi seperti Abdul Razak, Nur Satin dan Kanda Adam. Sesiapa yang ingin mengetahui asal keturunan boleh menghubung saya melalui ruang komen dan serta alamat email untuk saya memperkenalkan www.geni.com atau terus ke emai saya ahmadckk@gmail.com
Ianya adalah berkait dengan moyang saya juga iaitu Daeng Selili yang lebih dikenali sebagai Haji Besar dan Daeng Hanasah yang lebih dikenali sebagai Nakhoda Hitam dan La Tata Ambralla. Kedua-dua tokoh ini merupakan watak penting dalam sejarah Perak sekitar abad ke-18 tidak lama dahulu. Ceritanya begini,
Semasa dalam pelayaran balik dari Makkah setelah menunaikan fardu haji, beliau (Daeng Selili) telah singgah di Pulau Sembilan yang terletak di Kuala Sungai Perak. Disitulah Daeng Selili bertemu dengan seorang Panglima Bugis yang sangat ditakuti oleh orang-orang Belanda bernama Nakhoda Hitam. Orang-orang Belanda menganggap Nakhoda Hitam itu sebagai perompak laut yang sangat kejam dan ganas tetapi yang sebenarnya Nakhoda Hitam adalah seorang pahlawan yang sangat dihormati oleh orang-orang Bugis dan lain-lain bangsa Bumiputera di Nusantara kerana keberaniannya. Beliau dikatakan hanya menyerang dan merompak kapal-kapal Belanda sahaja. Nakhoda Hitam lebih suka menentang Belanda dimana-mana juga di perairan Nusantara tetapi dihari-hari kebelakangan, beliau lebih suka menetap di sekitar Pulau Sembilan sahaja untuk menentang dan menyerang kapal-kapal Belanda yang datang ke negeri Perak untuk membeli bijih timah. Nakhoda Hitam dipercayai tidak lagi balik ke negara asalnya iaitu Tanah Bugis setelah negeri itu ditakluk oleh Belanda semenjak dari tahun 1667. Ketika Daeng Selili sampai di Pulau Sembilan, beliau telah ditentang oleh Nakhoda Hitam. Nakhoda HItam itu dikatakan La Tata Ambralla, seorang panglima Bugis yang sangat terkenal didalam sejarah. La bererti Lelaki, Tata bererti perkasa dan Ambralla bererti Laksamana lelaki perkasa. Peristiwa berlaku bila Daeng Selili yang juga digelar Haji Besar berhenti berehat di Pulau Sembilan untuk menunaikan sembahyang dan berehat seketika dalam perjalanan pulang dari Mekah ke Sulawesi. La Tata menyangkakan Daeng Selili seorang perisik upahan Belanda lalu mengambil tindakan untuk menyerang Daeng Selili. Sebenarnya Daeng Selili dihantar ke Makkah oleh bapanya kerana beliau terlalu bengis dan bapanya berbuat demikian untuk menginsafkannya. Perdamaian berlaku bila La Tata terlihat keris bersarungkan emas dan mempunyai bentuk pajar saleh (mengikut tulisan Petri Noor Jaliah) atau Khalid (mengikut tulisan A Halim Nasir) di buntutnya yang dipakai oleh Daeng Selili yang menunjukkan beliau berketurunan Raja Bugis. Maka sudah pasti beliau tidak mempunyai apa-apa kaitan dengan Belanda sekaligus menghapuskan tanggapan La Tata sebelum ini. Daeng Selili kemudiannya mengambil keputusan untuk menetap di Pulau Sembilan.
Asalnya Daeng Hanasah menyangkakan bahawa Daeng Selili itu adalah sekutu Belanda tetapi setelah melihat keris yang tersarung padanya, tahulah Daeng Hanasah bahawa Daeng Selili itu adalah saudara kandungnya yang sudah lama tidak ditemuinya. Kedua-duanya kemudian mengadap Sultan Perak pada waktu itu lalu membantu Sultan untuk mentadbir kerajaan.
Daeng Selili adalah satu nama yang cukup gah di negeri Perak. Beliaulah yang dikatakan memerangi lanun di Pulau Sembilan, mencadangkan sistem penggiliran Sultan Perak ( adat Temenggung ), merupakan mufti Negeri Perak yang Pertama, dan mendapat lesen besar mengalahkan James Bond dengan gelaran Orangkayakaya Maharajalela Pancung Tak Bertanya.
Daeng Selili juga dikatakan sahabat baik "Daeng Kuning" yang juga moyang kepada pengasas Seni Silat Gayung.Almarhum dikatakan ghaib sewaktu hendak disemadikan di Padang Changkat, Kuala Kangsar dan disepakati jasadnya digantikan dengan sebatang tongkat milik beliau.
Mencari maklumat tentang Daeng Selili di internet memberikan banyak cerita yang berbeza- beza. Salasilah Kerajaan negeri Perak hanya menyatakan bahawa Daeng Selili berkahwin dengan Raja Su binti Almarhum Raja Mansur, adinda kepada Sultan Muzaffar Shah III yang memerintah negeri Perak pada tahun 1728-1752. Keturunan Daeng Selili memegang gelaran Maharajalela di negeri Perak Darul Ridzwan. Namun kalau dilihat kepada forum-forum yang membincangkan tentang sejarah Melayu, banyak hal-hal lain yang di ceritakan, yang merupakan cerita-cerita yang diperturunkan oleh orang-orang terdahulu dan tidaklah termasuk dalam sejarah rasmi. Walaubagaimanapun, saya mendapati beberapa persamaan pada cerita-cerita ini. Beberapa nama yang biasa didengar kerap muncul. Nama-nama seperti Megat Terawis, Bugis, Daeng 5 bersaudara selalu disebut dalam cerita-cerita ini. Namun ianya tiada dalam sejarah rasmi negeri Perak.
Sewaktu saya memulakan pengkajian silsilah, nama Daeng Selili muncul apabila dikatakan berperang dengan moyang saya yang bernama Daeng Hanasah/Nakhoda Hitam yang dikatakan lanun yang berleluasa di perairan negeri Perak. Diperihalkan bahawa kedua mereka ini bersaudara, bahawa mereka ini keturunan Bugis Luwu dan bapa mereka adalah sultan Aceh yang beristerikan putri kepada Pajung Luwu. Tetapi seperti diceritakan di blog saya terdahulu, fakta-fakta seperti inilah yang menyebabkan saya banyak membaca dan berfikir, kerana terlalu banyak yang tidak konsisten. Maka inilah cerita versi baru setelah dikajiselidik berdasarkan beberapa sumber, termasuklah Lontara Sukkuna Wajo....
Alkisahnya pada tahun 1998, Kerajaan Indonesia telah menganugerahi seorang pahlawan nasional mereka dengan "Bintang Patra" dan "Bintang Mahaputra Aripradana" sebagai penghargaan kepada jasa beliau yang berjuang memerdekakan Tanah Wajo dari penjajahan kolonial Belanda. Disebalik perjuangan ini juga, tokoh ini sebenarnya juga telah berjuang untuk menghapuskan dominasi orang-orang barat di Sulawesi Selatan. Sejarah berulang kembali apabila keturunannya yang bergelar Dato' Maharajalela juga gugur kerana berjuang menentang penjajahan Barat di Tanah Melayu........ Pejuang yang menerima anugerah kerajaan Indonesia itu sebenarnya adalah Daeng Selili.
Daeng Selili sebenarnya adalah pejuang yang menerima julukan "Petta Pammadarekaengngi Wajona To Wajoe". Beliau adalah La Maddukelleng yang dikatakan lahir pada tahun 1703 Masehi. Ayahnya bernama La Mata Esso Arung Peneki bin Sangkuru Mulajajie Arung Peneki Mula Sellengnge Arun Matoa Wajo XII ( 1607-1610 ). Ibunya, Tenri Angka Arung Singkang, saudara kandung La Salewangeng To Tenrirua Arung Matoa Wajo XXX ( memerintah 1715-1736 ).
Kerana inilah juga, La Maddukelleng juga dikenali dengan nama Arung Peneki dan juga Arung Sengkang. ( Arung ialah gelaran sama seperti Raja/Pemerintah - Peneki dan Sengkang adalah nama-nama tempat ). Selili juga merupakan nama satu tenpat di Samarinda sekarang.
Menurut Lontara Sukkuna Wajo, La Maddukelleng memulakan perantauan dengan ratusan pegawai pada usia belasan tahun. Destinasi pertama beliau ialah Johor, kerana ingin bertemu dengan saudaranya bernama Daeng Mattekko. Malangnya, setibanya beliau di Johor, didapati saudaranya sudah dibunuh. Begitu juga dengan isteri Daeng Mattekko yang sedang mengandung... ( satu cerita yang mirip kepada satu karektor dalam sejarah Johor bernama Megat Sri Rama, Laksamana Bintan ) Harta kekayaannya dirampas oleh To Pasarai, sepupu Arungpone Batari Toja Daeng Talaga. La Maddukelleng juga menggunakan armada 40 buah kapalnya membantu Daeng Perani dan saudara-saudaranya dalam peperangan di Johor dan Kedah.
La Maddukelleng juga sebenarnya pernah mengalahkan dan memerintah Kerajaan Pasir (1726) -salah seorang isterinya merupakan anak kepada Sultan Pasir dan Kutai ( anaknya dikahwinkan dengan Sultan Kutai ) malah dikatakan penguasaannya sampai ke kawasan filipina sekarang. Beliau digelar "Gora'e/Bajak Laut" oleh Belanda kerana sentiasa mengganggu kapal-kapal Belanda yang mengangkut rempah ratus dan hasil-hasil bumi yang lain. Malah, La Maddukelleng merupakan musuh besar Belanda yang sentiasa mahu menghapuskan beliau dan keluarganya.
Kerana inilah La Maddukelleng sentiasa berwaspada. La Maddukelleng dan armadanya datang ke Perak sewaktu zaman pemeintahan Sultan Muzaffar Shah III Perak bersama-sama dua orang anaknya yang bernama Petta Torawi dan Petta Tosiangka. Mengunakan strategi memerang lanun, beliau akhirnya berjaya menempatkan anak-anaknya di Perak tanpa memberitahu siapa sebenarnya mereka. Ini merupakan satu muslihat untuk mengkaburi mata musuh-musuhnya daripada terus memburu keluarganya dan memastikan kesinambungan perjuangan keturunannya.
La Maddukelleng sendiri kembali ke Wajo, meneruskan perjuangannya menentang penjajah Belanda namun datang sekali sekala ke Perak. Anak-anaknya ditinggalkan di Perak, memegang jawatan penting dalam kerajaan Perak, berkahwin dengan anak-anak raja, tanpa pengetahuan Belanda. Keturunannya jugalah yang memegang jawatan Sultan Perak sehingga sekarang, hasil dari perkahwinan cucu Petta Tosiangka/Laksamana Raja Mahkota Nakhoda Hitam/Daeng Hanasah dengan almarhun Sultan Ahmaddin Shah, Sultan Perak ke 18.
Alfatihah untuk semua mereka ini.
(Menurut Lontara yang sudah dikemaskinikan, dalam susur "Limpo Batang" Lontara Sukkuna Wajo, nama khaz sudah dimasukkan dan sekarang bergelar Andi Khairul...... )
Pakdenoran telah membuat sedikit penyelidikan dan bertemu beberapa orang sepert DR Sulaiman Shaari, Encik Azmi Kadir,Encik Khairul Azhar, Encik Ahmad Satar, Megat Helmi, Mohamad Fuad(88) dan beberapa orang lain yang bersangkutan dengan Imam Kolah. Hasil penyelidikan bahawa Imam Kolah (IK) merupakan cicit Daeng Selili beristerikan dengan Raja Tengah anak Raja Mansor. Daeng Selili terkenal dengan beberapa gelaran itu Daeng Selili Haji Besar, Daeng Chelak dan Pancung Tak Bertanya ini semuanya ada cerita sebaliknya (akan diceritakan kemudian). Daeng Selili mempunya tiga isteri dan ramai anak. Disini cuma di ceritakan dua orang anak sahaja iaitu Daeng Abdullah dengan gelaran Tok Anjang atau Tok Enggang dan anaknya Daeng Sura iaitu bapa Imam Kolah dan Imam Tanjung. Manakala Imam Kolah beristerikan Anjang Saadiah Iaitu Anak Busu Manjang cucuDaeng Mat Tara lebih dikenali dengan Tok Tongkat dan namanya daeng Mohd Kadir cicit Daeng Selili dengan Raja Tengah jadi moyang Imam Kolah dan Anjang Sadiah ialah Daeng Selili. Jadi Pakdenoran dan setaraf dengannya merupakan keturunan keenam dengan Daeng Selili sebagai keluarga teras.
Apabila ada keluarga besar Daeng Selili mengetahui pakde salah seorang keturunan DS mereka menjemput pakde ke Selewasi Selatan menghadiri berjumpaan besar keturunan DS pada 20hb Disember ini di Sangkang Selewasi Selatan dan pakde telah mendaftar dan ingin pergi bersama-sama beberapa orang dari Kuala Kangsar ke sana (Insyaalah pakde akan dapat pergi). Mengikut perancangan rombongan dari Perak ke Tawau Sabah pada 18.12. ini bertemu dengan kelaurga di Tawau di ketua Indra dan dari Tawau ke Nunukan dan Tarakan Kalimantan Timur dengan speedboat 2 kali selama 4 jam dan dari Tarakan naik kapal besar ke Parepare selama 10 jam (dengar kata kapal telah disewa untuk 700 orang dari Malaysia dan Kalimantan).
Sesiapa sahaja boleh melihat kajian pakde dan kawan-kawan pakde harap beri alamat email kepada pakde dan pakde boleh perkenalkan laman web www. geni.com
Salam sejahtera, Sesiapa saudara mara yang ingin menziarahi Puan Hjh Sabariah bt Hj Abd Majid bin Hj Abd Latih yang mengalami stroke bolehlah menghubungi anak-anaknya Abd Manaf hp. 0139388684 atau Anita hp. 0125245619. Keadaannya sihat tetapi tidak boleh bertutur dengan jelas, tidak boleh berjalan dan menguruskan dirinya. Anak-anaknya itu bergilir-gilir menjaganya berulang alik samada di Pulau Pinang atau Kota Bharu. Sama-samalah kita berdoa yang terbaik untuknya.